Friday, January 5, 2018


Media hari ini begitu sangat kompleks, yang dahulu kita hanya bisa menikmati dari media cetak namun hari kita bisa sangat mudah mengakses segala hal dari tangan kita tanpa susah payah membeli koran dan buku-buku. Begitu pula ketika menulis, perkembangan dari tulis tangan ke mesin ketik yang suaranya bak orkestra kemudian komputer, dan hari ini bisa menggunakan gadged yang sudah sangat mumpuni untuk menulis ( menulis status contohnya ). Dengan perjalanan media yang sebagai alat dalam menulis dari waktu ke waktu semakin mudah, jelas menjadi penulis hari ini akan lebih enak. Banyak aplikasi pendukung dan mempermudah, tulisan salah ketik bisa ada koreksi otomatis meski kurang maksimal juga. Pada intinya menjadi penulis selain kecakapan bahasa kata pena namun hal yang sudah sangat mendukung adalah medianya.

Tidak kalah pentingnya dari menulis adalah profit atau berpenghasilan. Meski tidak banyak orang sangat sukses dalam menulis, namun saya kira penulis sejati yang menikmati lantunan kata penanya tidak menghiraukan hal yang bagi saya sangat sederhana. Meski demikian bisa menjadi sedikit motivasi seseorang dalam menulis kalau ada hasil materinya. Lah...hal ini pun lebih mudah daripada dulu yang harus mengirim ke koran-koran dan memunculkan buku, baru dapat penghasilan. Sekarang ada internet yang sudah rata-rata bisa mengaksesnya. Mulai yang paling sederhana melalui blog yang istilah sudah adsenses, nantinya ada hasil materi jika blognya sangat aktif dan banyak yang mengunjungi. Secara otomatis pula kalau tulisan kita kalau sudah dikenal maka akan banyak yang tertarik untuk mendatangakan kita sebagai narasumber. Ibarat menulis adalah salah satu jalan dalam menunjukan daya nalar dan pikir kita.

Itu sedikit nilai profit yang mungkin bisa kita dapat. Namun memang masih banyak yang pesimis jika menulis itu sangat menakutkan dan tidak semudah berbicara. Sebagian orang akan mengamini hal demikian, namun sebagaian besar akan berkata berbeda. Karena sudah sanagat jelas, status-status kita dalam media sosial banayak sekali menggunakan kata-kata manis nan bijak. Agar terlihat waw orang lain, meski plagiat juga. Dari ini saya bisa sedikit merumuskan, banyak orang sangat mumpuni dalam hal tulis menulis, meskipun intreprestasinya agak berbeda. Karena tulisan seorang penulis dan tulisan dari seorang pegiat media sosial jelas memang sangat jauh ranahnya. Namun bagi saya satu hal yang membuat sama, yaitu mengenalkan dan membuka diri. Walau lebih bermakna tulisan dari seorang penulis tulen. Ini bisa jadi tolak ukur perbedaanya hanya pada pemikiran yang digunakan. jika seorang penulis sedang membuka dunia secara luas namun seorang pegiat media sosial hanya membuka dunia kepribadiannya. Jika ini dasadari bahwa semua memiliki bakat itu dan merubah hegemoninya saya kira ada banyak hal yang lebih bermakna. Minimal status yang kita buat lebih berisi dan membuka jalan buntuk akal orang-orang diluar kita.

Dari hal ini, arah pemikiran kitalah yang mempengaruhi cara kita bersikap. Sehingga ketika bermedia bagi kita memang asyik dengan ketik sana ketik sini, kemudian kata surga kata neraka pun ter diskripsikan secara baik. Kenapa tidak kita tuliskan itu secara lebih bermakna. Sudah biasa ngetik status lo,,,, tidak ada bedanya aslinya. Cuman kita saja yang merasa menulis itu ribet. Harus gini dan itu. Padahal hanya satu kuncinya, buatlah menulis itu seasyik saaat kita buat status di beranda media sosial kita.

Sambil menikmati matahari yang terbit, eh ternyata kok masih jam 09.00 malam. Ini bakalan lama nunggunya, yaaa sudahlah..begadang begadang...eh ada bang haji...begadang jangan begadang kalau tidak ada gunanya..ah cuek tak bikin status saja..status eh status...kok banyak tidak bergunanya status ini....( wah kilingan bang haji )...


MARI SAHABAT KITA MENULIS MESKIPUN HANYA DENGAN SATU KALIMAT STATUS DI BERANDA KALIAN...


By: Santri Pergerakan



Wednesday, January 3, 2018

Beliau biasa di panggil cak Abid, dilahirkan di daerah bengawan njero, tepatnya di Desa Waruk Kecamatan Karangbinangun Kabupaten lamongan. 34 tahun lalu beliau dilahirkan, tepatnya pada hari Rabu, 28 Maret 1984. 

Sahabat Abid berada pada geografis daerah sering terkena musibah banjir disetiap musimnya. Apakah ini menjadi pertanda proses beliau terhambat dan lambat?, ternyata tidak. Melihat sekarang aktif dibeberapa intsnasi dan menjabat posisi yang cukup strategis, bisa menjadi tolak ukur bagaimana keadaan tidak menjadi penghalang beliau dalam menuntut ilmu dan meraih kesuksesan dalam hidup serta bermanfaat bagi sesama. 

Jenjang pendidikan beliau sendiri dimulai dari MI Darul Ulum kemudian di MTs Khozainul Ulum Bojoasri - Kalitengah dan Aliyahnya sendiri di MA Darul Ulum Waruk. Selepas itu beliau melanjutkan pendidikan S1 di kampus STIT Al Fattah. Dalam proses menjadi santri disini, beliau aktif dibeberapa kajian-kajian kitab klasik dan semasa mahasiswa beliau aktif di organisasi intra dan ekstra. Bisa dibilang disinilah jiwa revolusionernya beliau, santri yang berkemajuan dalam berfikir dan bertindak. Semasa masih aktif di organisasi intra kampus, beliau menjadi pencetus adanya DEMA sekitar tahun 2005. Yang sebelumnya sistem yang dipakai adalah SENAT. Kemudian di organisasi ekstra sendiri beliau juga sangat aktif, yaitu di PK.PMII STIT Al Fattah. Sehabis menjadi Presiden Mahasiswa pertama selepas SENAT menjadi DEMA. Beliau juga menjadi Ketua Umum PMII cabang Lamongan pertama dari komisariat PMII STIT Al-Fattah pada tahun 2008-2010.

Selepas proses beliau pada saat menjadi mahasiswa, berdampak hingga hari ini beliau melanjutkan karirnya. Beliau sekarang mulai melanjutkan study pasca sarjana di Gresik. Menjabat sebagai sekretaris  Garda Bangsa Lamongan serta menjadi staf ahli anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

Sahabat Abid merupakan salah satu senior bagi kader komisariat PMII STIT Al-Fattah. Semangat dan dedikasi beliau pada organisasinya masih sangat terasa dan di alurkan pada denyut nadi pergerakannya. Menjadi seorang senior bukanlah jabatan namun sebuah tanggung jawab. Itu yang beliau cerminkan ketika memberikan banyak masukan dan arahan, tidak lupa akomodasi dibeberapa momen kegiatan. Sikap sahabat abid sendiri sangatlah tegas, namun memang itulah yang coba beliau tanamkan kepada adik-adiknya. Menjadi kader militan dan totalitas itu haruslah tegas dan cakap.

kalau kopi yang saya seduhkan tidak sebegitu mantap, maka bukan berarti saya tidak bisa membuat kopi. Namun harus saya takar lagi racikan kopi dan gulanya kemudian cara mengaduknya yang harus lebih dinikmati.

salam takdzim...salam pergerkan.....!!!

Menjadi hal umum jika di akhir tahun masehi setiap individu ataupun kelompok ingin merayakan suatu momen yang berkesan serta memberikan makna yang bergitu berarti guna sebagai penanda langkah dari yang sudah maupun yang akan ditempuh.

Begitu pula dengan pengurus komisariat pergerakan mahasiswa Islam Indonesia yang menggunakan momen akhir tahun ini untuk melakukan satu kegiatan momentum guna menyambut pergantian tahun. Kegiatan yang dilaksanakan sahabat-sahabat komisariat adalah kemah ilmiah, yang mana  kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya gerak dan fikir sahabat-sahabat dalam melakukan segala aktifitas organisasinya. Serta kegiatan ini sebagai momen pemersatu visi-misi dari setiap individu dalam menjalin perasaan antar saudara, atau bagaimana keorganisasian ini bukan hanya terkait administrasi namun juga hubungan sosial kekeluargaan yang terbangun. Karena tanpa itu pula segala aktifitas organisasi akan mengalami banyak kendala. Sebab apapun administrasi yang diterapkan akan sulit terealisasikan jika mana dari setiap anggota dan kader tidak memiliki jiwa kepemilikan antar individual atau bisa disebut sebagai hubungan hormonal. Karena sesuai tema kegiatan sendiri " Bercerita, Memadu Rasa, Merajut Asa dan Menjaga Tali Persahabatan Demi Satu Tujuan Bersama di Lembaran Baru ". 

kegiatan ini sendiri, dimulai dari menyiapkan tenda, kemudian menyiapkan perlatan yang dibutuhkan selama satu malam dan bercekrama santai dari setiap sahabat menceritakan momennya selama berada di PMII. Ada yang unik ketika melaksanakan kegiatan ini, yaitu banyak perlengkapan yang tertinggal. Entah karena apa, alat yang digunakan memasak banyak tertinggal sehingga sedikit memperhambat kegiatan. Meski demikian sikap sigap dari ketua panitia sahabat Anam akhirnya dapat memperlancar kegiatan. Beliau lontang - lantung untuk mencari alat di pertokoan daerah trawas. Ini mungkin sedikit ghirohnya beliau demi kegiatan tidak terkendala, tenaga siap tancap tanpa pandang kondisi. Kredit lebih mungkin pantas disematkan kepada sahabat Anam. 

" Bagi saya setiap hal yang saya lakukan adalah sebuah proses kaderisasi, jadi bagaiman saya berproses kalau mana saya tidak serius dalam bertindak serta cakap dalam segala momen-momen krusial ", Jelas sahabat Anam.

Ada beberapa momen seru dalam kegiatan ini, selain persiapan yang gagap gulita demikian. Sahabat merilekskan dengan menyalakan musik dugem nan santai sembari menggoyangkan pinggul tangan. Pertanda hari mulai tenang dan menjaga situasi kondusif dengan keasyikannya. 

"apa guna dunia ini jika musik seasyik ini tidak membuat kita bergoyang gembira" kata sahabat Anam.
Selepas itu, masuk pada acara inti. Sahabat-sahabat memutari api unggun yang sudah mulai layu. Sembari menyalakan lilin guna menambahkan kehangatan acara. Setiap sahabat menceritakan momen-momennya ketika di PMII. Sebelum dimulai ada puisi penyambut dari sahabat Basri. Yang sedikit bisa diulas disini " ada sahabat yang bertanya tentang cinta, Bagaimana seseorang bisa mengatakan cinta jika tak terungkap dalam langkah nyata ", ucap sahabat Basri. 

kemudian sahabat-sahabat menceritakan momen-momennya. Mulai dari hanya sekedar ingin menikmati kumpul, keluar dari kejenuhan, serius dalam berorganisasi dan pelampiasan dari kenyataan pahit hatinya. Begitu beragam sahabat ini memaknai gerakannya dan merubah awal pemikirannya sehingga proses kedepan bagaiman bisa berguna bagi PMII.

"saya masuk di PMII memang telat, mungkin karena kesibukan saya di Pondok sehingga belum berani untuk mengikuti kegiatan ekstra. Namun ada penyesalan tersendiri, karena sahabat-sahabat PMII ini secara pemikiran luar biasa dan maju kemudian direalisasikan dalam gerakan. Ini yang membuat saya sangat mantap dalam ber-PMII" Jelas sahabat Anam.

"saya sendiri masuk PMII karena memang sudah sangat aktif dalam organisasi, sehingga ketika kuliah saya juga sangat ingin berorganisasi. Dengan izin orang tua, PMII menjadi pilihan saya. Namun ada beberapa hal yang membuat saya sangat kecewa, bukan pada PMIInya namun oknum-oknumnya. Sehingga membuat saya gundah. Namun pada saat ini pula bahwa kalau berorganisasi bukan numpang hidup tapi harus menghidupi. Sehingga pada suatu saat nanti saya ingin merubah menset dari oknum-oknum ini agar lebih menjunjung tinggi warwah organisasi" tandas Sahabat Faruq.

"masuk diorganisasi adalah pilihan yang tidak bisa saya ambil ketika masih ada dibangku sekolah, karena keadaan di Pondok membuat saya tidak bisa ikut kegiatan-kegiatan diluar jam sekolah. Maka bisa dikatakan ini sudah menjadi impian semasa SMA. Karena di kampus hanya ada PMII maka saya ingin masuk dan belajar. Namun di situ ada pertentangan dari beberapa orang di Organisasi lain  yang juga saya ikuti, sehingga membuat saya dilema. Namun bagi pribadi tidak ada yang salah di PMII. karena gunjingan ketika ikut kegiatan PMII, maka saya lebih sering aktif di PMII. Dan beberapa masukan terkait permasalah ini akan saya coba maksimalkan dalam proses saya", Kata Sahabat Amil.

"menjadi seorang berandalan adalah citra semasa SMA. Namun hari ini ketika saya masuk di PMII, paham cara kerja dan hubungan keluarganya, menjadikan hati ini mantap ingin selalu belajar memebanahi pribadi kemudian berjuang menghidupakan organisasi ini" jelas Sahabat Agung.

"menjadi pecundang karena urusan hati memang sedikit menggugah akal guna bergerak. inilah awal mula saya begitu serius ingin ber-PMII. Karena patah hati membuat jiwa raga ini melupakannya dan menyibukkan diri di kegiatan-kegiatan organisasi. Meski niat ini salah tapi lambat waktu berjalan, akhirnya pergeseran pemikiran pun ada. Saya lebih ingin serius dalam ber-PMII" begitu kata Sahabat Ipul.

begitu sangat beragam sahabat-sahabat ini menceritakan momennya, menjadikan kopi ini semakin hangat saja. Tidak tahunya sudah masuk jam 00.00 Wib, 01 Januari 2018, petasanpun terbang bebas ke langit-langit. dum-dum, suara petasan bernyanyi sembari kilatan cahaya ledakan yang menari indah berwarna-warni. Kemudian bunyi klakson sepeda motor dan mobil bergerumun di iringi suara knalpot dari tarikan gas sepeda motor. Ramenya malam tahun baru. Kita pun tidak mau kalah. Sahabat syaiful menyiapkan alat yang sudah sedari sebelumnya direncakan untuk membuat lampion. Lampion siap dan terbang..............................................tidak sampai beberap puluh meter api lampion sedikit memadam, entah karena apa, lampionpun turun manis. Sahabat-sahabat berlari agar lampion tidak mengenai tenda, karena bisa bahaya tingkat dewa kalau apinya menyambar tenda. Tawa ria seluruh lapangan benada huuuuuuuuuuuuuu...sedikit malulah kita..tidak mau nyerah kita siapkan lagi lampion itu untuk terbang. Sudah pasti lah....masih pada proses pertama. Lampionnya tidak mau terbang. Sedikit menahan jengkel dan malu tapi tetap tawa lepas kita bersama. Akhirnya lampion di bakar buat api unggun dan cuek saja. Joget lagi abang....!!!! jib ajib ajib ajib ajib...sekedap sekedap sekedap...ebgitulah nada dari sahabat anam dan ipul sambil lampu senter diputar-putar layaknya disko.

Demikian kegaiatan sahabat-sahabat di akhir tahun. Sembari kita menjabat tangan ini secara erat, mari kita bisikkan satu kalimat tajam ke angkasa. JIKA BENDERA SUDAH DIKIBARKAN, HENTIKAN RATAPAN DAN TANGISAN, TANGAN TERKEPAL MAJU KEMUKA !!!!!

Semoga kartu remiku banyak jokernya biar makin asyik aku duduk berputar disekeliling kalian yang memapang raut wajah penuh gelisah dan menahan pemikiran yang dalam. Menandakan kalian tidak ingin organisasi ini berjalan stagnan apalagi hilang karena kebodohan.

terimakasih sahabatku......

by : Santri pergerakan ( fotoku kok unyu dewe )

Tuesday, December 26, 2017




Sebagai warga Nahdliyin, ziarah kubur sudah menjadi salah satu ibadah yang diajurkan dalam pengamalannya. Kebiasaan ziarah ini mengunjungi makam wali, kyai, orang tua, sanak saudara dan para pejuang bangsa ini. Kegiatan ini biasanya di isi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an atau biasa Kita sebut membaca tahlil & yasin.

Pada tanggal 27 Desember 2017, Pengurus Anak Cabang ANSOR Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan, Mengadakan Kegiatan Ziarah kubur. Sesuai dari amalan yang dianjurkan oleh para ulama-ulama terdahulu. Sehingga kegiatan ini sangat perlu di realisasikan demi mempertahanklan budaya dan menjaga kelestarian amal-amalan ibadah yang jelas sangat bermanfaat.
           
Rute yang akan diambil dalam ziarah ini, dimulai dari Parang Tritis sebagai start pariwasatanya kemudian religinya ke para Wali dari Jawa Tengah, yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Muria serta berkeliling ke Kota Demak. Akhir dari rute wisata religi di Sunan Bonang yang berada di Tuban. Begitulan proses kegiatan yang disalaksanakn oleh sahabat ANSOR dari kecamatan Modo.


“Kegiatan ini sendiri bagian dari realisasi permohonan Sahabat ANSOR Modo pada saat reses, sekaligus jalinan sillatuirrahmi Pak Suparta dan Sahabat ANSOR,” Kata Sahabat Abid. 

Saturday, December 23, 2017

Dalam hal apapun perbedaan itu tidak akan terhindarkan. Bahkan semakin kentara dari setiap individu ke individu lain, dari kelompok satu ke kelompok lain. Melihat hal semacam ini jelas perbedaan adalah suatu keniscayaan bagi setiap mahluk hidup. Maka inilah warna kehidupan, tidak hanya hitam putih namun ada puluhan warna menghiasi. Jika ini digambarkan dengan kata puitis maka inilah yang dinamakan sebagai persatuan. 

Hari segala isu mulai tergulir tajam dan manis. Semua dimuarakan ke agama. Ketika bersosial menjadi tidak lagi baik. Segala hal dikatakan sebagi bid'ah tanpa menulusuri maksud. Menjadikan agama hanya alat pembenaran prilaku dan merupakan pemegang kebijakan yang absolut. Maka bagaiman kita mengenalkan keindahan beragama. Padahal di Qur'an sendiri mengatkan bahwa kita tecipta bersuku - suku yang berbeda-beda. 
وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Jelas bahwa mengenal perbedaan membuat kita terjauh dari sikap takabbur. Bahwa kitalah yang paling baik dan mereka dengan mengatakan bid'ah lebih buruk dari kita.

Agama itu indah namun keindahan itu bisa terpancar dari kita yang melakukan penerapan sistem agama secara indah. Bukan sebagai alat ataupun tameng kebenaran individual ataupun kelompok tertentu semata. Dengan keindahan akan banyak orang akan terpana, namun bila tak mengejawanthakn secara kasar maka banyak akan terpinggir dan tidak menerima realitas semestinya. Bukan hanya mereka tapi kita bertanggung jawab bagaiman agama menjadi suatu hal yang patut diikuti bukan dihindari.

mengenai tentang ucapan selamat saya ambil dari grup sahabat saya alumni ketika sekolah dulu. bahwa ucapan selamat bukanlah hal nista. Mengatakan kebiasaan orang kafir dengan dalih mampu merubah keimanan??? lah saya ingat ketiak cak nun menjelaskan bahwa ada seseorang yang bertanya musik itu haram karena dapat menghilangkan kesadaran kita pada tuhan. Lah ya antara sadar dan tidaknya ada di akal kita. Bagaiman cara kita berfikir bukan musiknya yang salah tapi cara berfikir kita salah. Apalgi penyuplikan ayat dan dalil-dalil lainnya sudah asal saja yang penting dapat memuluskan argumentasi itu sangatlah parah.

Diriwayatkan Ibnu Ishak, suatu hari orang-orang ARAB QURAISH mendatangi Nabi Muhammad & berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana bila kita bekerja-sama dalam ibadah? Kami akan menyembah yang kau sembah, tapi kau juga menyembah yang kami sembah."

Turunlah firman Allah, لَكُم دينُكُم وَلِيَ دينِ , "Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku" (Al-Quran, surat Al-Kafirun, ayat 6).

Ini adalah ASBABUN NUZUL (sebab turun ayat) Al-Kafirun, ditujukan kepada Arab Quraish yang mengajak MENYATUKAN AGAMA.

Lalu, apakah mengucapkan "Selamat Natal" artinya kita MENYATUKAN AGAMA Islam & Kristiani? Ucapan selamat tak lebih dari ADAB SANTUN tidak ada bedanya dengan ucapan "Selamat Ulang Tahun", atau "Selamat Menempuh Hidup Baru" bagi pasangan baru menikah, atau saat mendengar istri kawan baru hamil.


Masalahnya dimana? TIDAK ADA urusannya dengan Akidah, hanya adab BERBAGI BAHAGIA. tidak kurang tidak lebih, karena kita manusia, bukan binatang. Menggunakan Al-Kafirun yang ditujukan kepada ARAB Quraish karena mengajak MENYATUKAN agama untuk mengharamkan "Selamat Natal" jelas jelas "Jaka Sembung Bawa Golok!"

Argumentasi adalah politis namun apakah politis itu menjadi baik dan buruk maka gunakan argumentasi yang baik dengan tidak mengotak - atik sesuatu yang tujuannya hanya untuk alat pembenaran. Ada yang mengatakn kita harus menjahui keburukan agar tidak goyah iman kita. Padahal agama turun bukan menghindari keburukan namun menetralisir keadaan. Kalau seandainya agama menghindari keburukan mungkin mekkah tidak lah seperti ini, atau hari ini saudara kita palestina sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan Al-Aqsa mungkin bisa dihindari karena katanya nasionalisme tiada dalilnya. Terus bagaimana posisi agama sebagai agen perubahan dan kontrol sosisal jika menghindari masalah bukannya menetralisir masalah hingga berbuah manis bagi semua umat. Apalagi menucapkan selamat adalah rasa persaudaraan anatar umat manusia. Tidakkkah ingat Roham dan RohimNya. bukankah mencintai manusia juga merupakan cara kita beriman. Menjaga kebaikan agar kebaikan terlestarikan dan dapat menarik daya seluruh umat yang berkutat pada kebenaran agama masing-masing. Masihkah kita harus berkuta pada hukum kalau hanyaalat kebenaran subtansial semata.

Semoga bangsa ini tetaplah kokoh menghadapi rakyatnya yang sedang beretotika tentang perpecahan dan memuluskan kerusakan yang tidak disadari. 

Selamat hari Natal untuk saudaraku yang sedang melaksanakannya......

by: santri pergerakan