Saturday, January 5, 2019

MEDSOS DAN PEMILU
Metode kampanye mendatangkan masa ataupun mendatangi setiap rumah rumah yang pada pemilu pemilu terdahulu dilakukan oleh setiap peserta pemilu hari ini sudah sedikit bergeser, keramain hiruk pikuk penyampaian informasi tentang visi misi calon pemimpin di negeri inipun sudah beralih ke ruang ruang maya yang sudah bisa di jangkau lewat smartphone yang hari ini di isi dengan berbagai pilihan media sosial dan dengan sangat mudah pemilik suara bisa melontarkan gagasan serta kritikan bahkan sampai ke ujaran kebencian.
Untuk kalangan yang relatif terdidik, kampanye menggunakan media sosial lebih efektif ketimbang baliho dan spanduk. Orang yang relatif terdidik dan well inform ini tidak akan percaya isi baliho atau spanduk, tapi lebih percaya pada perkataan teman atau koleganya di media sosial.
Namun hati ini kita lebih di suguhkan tentang kabar atau berita yang bisa di katakan kurang mendidik bahkan disinilah hebatnya pengaruh negatif dari media sosial bisa membius banyak masyarakat bahkan sampai bisa menjadikan Indonesia yang dikenal dunia karena memiliki banyak suku dan budaya hari ini karena medsos suku itu hanya terbagi menjadi dua seperti yang sudah kita ketahui hari ini.
Lalu apa yang di harapkan oleh peserta pemilu dengan model kampanye seperti ini jawaban nya tidak lain dan tidak bukan adalah meraih simpati dari para pemilik suara yang baru yang kita kenal dengan istilah milenial yang di prediksi oleh KPU ada sekitar 34,2 dari suara yang sudah ada namun yang disuguhkan hari ini bukan visi misi ataupun harapan mau dimana bangsa ini tetapi lebih ke berita berita yang kurang bisa di nikmati oleh kaum muda saling mengejek drama drama hoax hari ini di suguhkan oleh elit elit bangsa ini dengan harapan untuk menjatuhkan lawan politiknya padahal adanya pemilu adalah salah satu cara agar masyarakat memahami arti dari dinamika demokrasi seperti apa yang di katakan oleh Haris (2006: 10)
Bahwa pemilu adalah merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat, yang bersifat
langsung, terbuka, masal, yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman
politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi. Maka dati itu mati kita jaga Indonesia ini yang sudah di perjuangkan oleh para pendahulu kita dengan mensukseskan pemilu dengan jangan saling menghina karena perbedaan pilihan politik itu hal yang wajar, jangan bagikan kabar kabar yang masih yidak bisa di pertanggungjawabkan ke benaranya.

JADILAH PEMILIH YANG CERDAS
M. SYAMSUDDIN ABDILLAH

Saturday, February 10, 2018


REGENERASI adalah sebuah keharusan dalam berorganisasi karena ketika regenerasi ini berjalan baik bisa dikatakan gerakan/proses kaderisasi organisasi tersebut berjalan dengan baik. Regenerasi ini terdapat pada organ-organ struktural dalam suatu organisasi dengan arti bahwa struktur ini merupakan penggerak dari suatu organisasi sehingga dalam tatanan tertentu peralihan ini menjadi kewajiban yang tidak boleh dihindari oleh suatu organisasi untuk memunculkan banyak perubahan dari setiap regenerasi organ-organ dalam tubuh organisasi. Tanpa melakukan itu bisa dikatakan organisasi melakukan suatu stagnasi parah dan bahkan bisa dikatakan sedang dalam proses kemunduran. Meskipun dalam berbagai kondisi dinamika regenerasi tersebut memiliki kendala yang mengakibatkan hal sedemikian bisa terjadi dalam organisasi namun sebenarnya hal tersebut bisa dihindari bila mana proses regenerasi ini bisa dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan haluan dari sebuah organisasi dengan kesesuaian kulturasinya. Mengacu hal sedemikian di organisasi PMII proses regenerasi ini sudah ditata sedemikian baik dalam regulasinya. Mulai dari tingkatan tertinggi pengurus besar ditingkat nasional hingga pada pengurus rayon di tingkat fakultas. 

Dalam pembahasan ini mungkin akan sedikit menggugah nalar yang terendap terkait regenerasi formalitas sebuah organisasi sehingga sering memunculkan satu kegalatan tersendiri dalam berjalannya suatu organisasi. Kenapa begitu mungkin karena kelambatan dalam proses kaderisasinya hingga tidak memunculkan pembaruan dalam tongkat kepimpinan dan berbagai faktor alam lain yang menjadi bencana dalam kehidupan suatu organisasi. Mungkin bisa kita katakan bagaimana niat itu tertanam dan pemikiran itu tertata, dengan maksud ketika kita sudah melakukan hibah jasmani dan rohani pada organisasi maka dalam tatanan pemikiran kita akan menggerakkan segala daya untuk keberlangsungan kaderisasi dalam suatu organisasi tanpa meminta pamrih materil sedikitpun dan tanpa subtansial pribadi untuk hal-hal yang sudah dilarang dalam organisasi. Kalau ada yang mengatakan kita ikut apa dan dapat apa maka saya secara tegas akan menimpali sudah melakukan apa ketika mau apa. Bagaimana bisa kita tinggal ikut langsung bertanya akan dapat apa sebelum mengusahakan apa yang ingin kita dapat. Ibarat akan memasak, seandainya mau masakan itu enak ya harus menyiapkan bahan itu selengkap mungkin dengan belanja kemudian memasakknya semaksimal mungkin agar bahan makanan tadi bisa teracik dengan benar sehingga masakan yang dihidangkan menjadi sedap dan nikmat. Ilustrasi demikian akan sama ketika kita melakukan proses dalam organisasi dengan serius sehingga konsep pemikiran tersebut membuahkan regenerasi emas kedepan.

Menakar dari hal tersebut proses RTK (Rapat Tahunan Komisariat) yang akan diadakan di Komisariat STITAF bisa lebih memaknai sebagai regenerasi yang sudah melalui banyak proses. Sehingga tidak memiliki kendala dalam kesiapan kader dalam mengemban amanah tersebut. Karena seperti apa yang saya ilustrasikan dengan memasak makna yang lebih tajam adalah memunculkan dari seorang hanya bisa menikmati hidangan menjadi seorang yang menghidangkan makanan dengan nikmat. Akan ada pertanyaan dasar ketika makanan yang dimakan itu nikmat adalah siapa yang memasak dan bagaimana cara memasaknya. Ketertarikan pada dasarnya yang nanti memunculkan keinginan besar untuk memncoba membuat makanan yang mungkin nanti pula bisa memiliki resep tersindiri agar masakan yang sudah nikmat bisa lebih nikmat. Kita sangat memahami lokalitas komisariat STITAF hari ini sangat terdegradasi dalam banyak hal. Pendahulu yang begitu elegan dalam banyak hal tidak lagi tercermin pada pribadi kader-kader atau anggota hari ini meskipun masih dalam tataran proses. Namun kenyataannya adalah regenerasi, dimana ketika pada proses ini hampir tidak ada yang memiliki kesiapan dan lebih memilih lempar handuk. Nah...bagaimana anda mengatakan menu yang bernama PMII ini enak jika anda sendiri tidak bisa membuatnya bahkan enggan membuatnya. Kalau kokinya sudah tidak ada dan tidak ada pula yang mau meneruskan bagaimana jadinya. Tidak semua memang bisa menjadi koki tapi dalam konteks ini semuanya bisa menjadi koki dengan catatan itu sudah merupakan semangat pribadi bukan lagi paksaan eksternal dari personal lain. Regenerasi bukan hasil sekali jalan namun regenerasi adalah hasil yang harus diteruskan, dikembangkan dan dibudayakan. Kalau kita memahami itu saya kira stagnasi dan kemunduran bukan masalah klasik meskipun itu bagaian dinamika. Minimal dinamika ini lebih terasa nyaman dengan semua punya pemahaman terkait makna regenerasi tersebut paling tidak memahami akibatnya. Kalau regenerasi berjalan maka survive namun jika tidak ya mati.

Ini merupakan harapan bersama jika kita sudah menghibahkan diri pada organisasi. Karena kita tahu organisasi yang kita hibahi ini sangat bermanfaat bagi banyak kalangan. Jadi apakah keraguan kita masih perlu dipertanyakan jikamana lempar handuk itu masih bagian dari proses kita hari ini?????





Tuesday, January 23, 2018

    Foto Bersama Sahabat Fahmi Fikri yang terpilih menjadi ketua cabang PMII 2017-2018

Disambut hujan yang sedikit lebat, mulai dari siang hingga menjelang malam tiba. Sehingga acara konfrensi tingkat cabang PMII Lamongan menjadi mundur berjam-jam. Disamping itu letak geografis yang cukup berjauhan membuat beberapa sahabat tertahan ditengah jalan karena hujan dan menunggu sedikit reda. Sehingga ada kebijakan khusus dari panitia untuk melonggarkan jadwal yang semestinya sudah disepakati dari awal karena faktor alam.

20.30 Wib waktu menunjukkan arah jarumnya sebagai pertanda waktu sangatlah malam untuk sebuah seremonial kegiatan. Namun tidak menjadi alasan untuk lebih menunda karena urusan konseptual yang terbentur sesuatu yang tidak terduga. Sebagian sahabat yang hadir mulai membuat kerumunan-kerumunan dari setiap komisariatnya. Sebagian lagi yang hadirnya silih berganti saling menyapa dan bercengkrama kecil. Sembari langit yang masih pekat karena malam dan mendung yang sedikit terlihat dari sayup-sayupnya mata karena badan terasa basah oleh tetesan hujan hingga menjalarkan sengatan dingin yang cukup menggetir. Namun tidak begitu terasa karena kehangatan dari momen yang seperti api unggun kecil yang dikelilingi sebuah perasaan yang warnanya bak pelangi. 

Sedemikian hangat dan sanyup serta guyub begitulah yang tergambar dalam forum tingkat cabang ini. Meski memang sedikit bernuansa politis tapi bisa diminimalisir. Kemudian semua peserta yang sudah ditetapkan oleh panitia melakukan registrasi untuk validasi data agar forum bisa berjalan aman dan kondusif. Namun ada beberapa yang mengeluhkan terkait Rayon disalah satu komisariat menjadi bermasalah. Yang disayangkan kenapa baru momen konfercab baru muncul, kenapa tidak sedari dulu sehingga bisa mempersiapkan administrasi yang dipermasalahkan. Namun demikian sahabat yang merasa haknya tidak terpenuhi tersebut tidak bersikap berlebihan dan membiarkan forum berlanjut.

Pembukaan pun sudah selesai dan dilanjut forum persidangan yang agak panjang dan alot. Sebelum itu, sahabat dari komisariat STIT Al Fattah membagi 2 team untuk menyebarkan selebaran terkait cabang hari ini dan kedepan. Dan alhamdulillah pembagian selebaran ini berjalan dengan baik. Maksud dari selebaran sendiri yakni memunculkan wacana agar kedepan cabang bisa melakukan gerakan yang lebih masif dan kondusif. Dengan selebaran itu pula nanti sebagai akad kesepakatan cabang agar rekomendasi yang sudah dibuat oleh sahabat-sahabat ini tidak menjadi bungkus nasi semata. Namun sebuah konsumsi pergerakan dan sebuah kapsul stamina gerakan PMII Lamongan kedepan. 

Persidangan yang berjalan kurang lebih 1 hari 2 malam ini terasa sangat kondusif. Semua sudah mulai menyadari posisi dan keadaan sehingga tidak ada gap - gap yang berarti dalam proses persidangan tersebut. Semua juga sudah mulai menata barisan masing-masing untuk mengusung satu wacana bersama yaitu demi keberlangsungan kaderisasi PMII Lamongan. Dengan hal yang demikian sahabat ketua cabang PMII kedepan diharapkan mampu mengemban segala amanah dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tertinggi PMII di Lamongan. Dengan segala hormat dan kasih sayang kita bersama, tiada struktural yang tertata jikamana kultur sendiri tidak terbangun dengan baik. Tetaplah rendah sahabatku meski kau duduk disinggasana. Tetaplah hangat sahabatku meski sedikit jauh dudukmu. Yang berarti persahabatan ini adalah kultur yang terstruktur demi suatu keutuhan yang bisa terjalin bersama.

SELAMAT KEPADA SAHABAT FAHMI FIKRI TERPILIH MENJADI KETUA UMUM CABANG LAMONGAN 2017-2018.

Saturday, January 13, 2018





Masa ber-PMII memang sudah diatur dalam AD - ART PMII. Dimana batas usia dalam segala tingkat kepengurusan ataupun keaktifan menjadi PMII. Namun regulasi tersebut hanya pada tatanan formalitas organisasi yang penting. Bukan sebagai penghalang tapi sebagai pemilah dan peningkatan mutu kualitas kader yang harus berada pada urutan step bawah ke atas. Seperti yang sudah jelas terpampang dalam kepanjangan dari huruf "P" di awal kata PMII. Pergerakan merupakan gerakan yang bersinambungan dan mengalir dari watu dan tempat tertentu. Sehingga tidak lah menjadi stagnan seorang kader bila benar-benar memahami sistem kaderisasi baik dalam tingkatan formalitas organisasi maupun secara kultur organisasi. dari tingkatan terbawah hingga pada tatanan kader mujahid, insan kamil hingga memang bisa menerapakan nilai dasar pergerakan secara multigerakannya. seperti pada tatanan ASWAJA ala PMII manhajul madhab al fikr. Begitu banyak metode pendalaman dan penalarandari segala hal. Sehingga inilah pergerakan yang harus benar-benar dilaksanakan oleh para sahabat-sahabat PMII. Namun pada hal ini ada hal penting lain yang sangat harmonis ketika ber-PMII. Yaitu tingkatan moralitas kultur sosial. Dimana ada sisi teduh dan sayup dalam mengikuti segala aktifitas moralitas ini. Karena tidak dibatasi maupun melanggar regulasi di PMII. Bahkan menjadi pondasi dasar dalam menggerakkan roda organisasi. Tiada tingktan yang membatasi selain sebagai suatu tanggung jawab moral pada sosial lokal kulturnya. Sehingga ketika melaksanakan sesuatu bisa bersinergi. Dan ketika tongkat moralitas ini mulai mengetuk maka mereka akan merapatkan diri guna menemukan segala permasalahan beserta solusi serta membuat roda ini tidak lah macet atau pada proses stagnasi. Berjalan memang sudah bagus namun jika berada jalur yang stagnan maka itu adalah awal kemunduran.

Maka dari itu sistem moralitas di PMII STITAF sudah sangat berjalan dengan baik. Pada hari kamis - jum'at tanggal 11-12 januari 2017. Sebagian senior meluangkan waktu untuk main ke Base cem PMII STITAF. Mulai pada malam rutinan hari kamis malam. Setelah di minggu sebelumnya ada senior dari malang. Hari ini Sahabat abid gantian mengisi forum diskusi setelah rutinan yasin dan tahlil. Beliau salah satu senior yang sangat giat dalam memantau segala aktifitas sahabat-sahabat PMII STITAF. Sehingga pada malam itu beliau mengisi forum diskusi santai, mungkin karena dasar kegundahan beliau melihat keadaan para kader PMII STITAF masih sangat banyak memiliki PR kaderisasi yang belum juga bisa diatasi. Meski sudah menampakkan beberapa kegiatan, namun itulah pergerakan yang tidak mudah terhegemoni. Kegaiatan itu bagus, namun memang harus ada nilai besar dalam berkegiatan, agar tidak hanya sekedar aktif hadir tapi benar-benar menggirohkan diri pada keilmuan. Sedikit yang bisa saya ambil karena telat datang forum. Bahwa keilmuan itu memang haruslah membaca dan memforumkan dalam diskusi, guna mengasah daya pikir dan penajaman penalaran dari setianp individu.

" seharusnya setiap sahabat ini haruslah membaca, dan ketika berdiskusi tidak hanya sekedar berbicara, namun dapat dipertanggung jawabkan" tutur sahabat Abid.

Akan terlihat tidak menarik jikamana diskusi ini tidak ada bekal yang dibawa untuk berdiskusi. Maka forum diskusi akan membuahkan banyak omong kosong daripada keilmuan semestinya. Setidaknya pengasahan ini bisa dimulai. Setiap sahabat - sahabat memiliki karakter dan keterampilan berbeda-beda. Jadi galilah potensi itu di-PMII.

"Setiap kader memliki keterampilan yang berbeda, hobi yang berbeda. sehingga wadah ini haruslah begitu bervarian guna menampung segala hal keterampilan. Sehingga organisasi ini bisa memutarkan roda organisasinya dengan baik. Asalkan semua sahabat ini serius" Tegas Sahabat Abid.

Demikian yang beliau sampikan dari sekian banyak kata yang bisa di narasikan. Guna sebagai penanda dalam ingatan kita bahwa apa yang beliau sampaikan bukan hanya untuk didengar, namun haruslah berupa realitas gerakan.

Kemudian di Siang harinya, berganttian senior lain mengisi materi tentang ASWAJA, Yaitu sahabat Abdurrahim Ihwanto atau dikenal mbah jenggot. Salah bentuk murojja'ah. Setiap materi kegiatan yang sudah dilaksanakan, maka materi yang sudah tersebut dilaksanakan proses Follow Up. Agar apa yang sudah didapat tidak hanya sebagai ikut kegiatan saja. Tapi harus serius dalam belajar dalam setiap kegiatan. Beliau-beliau ini tidak mengharapkan apa-apa selain kehidupan organisasi terus bernafas lega, dengan bentuk multigerakan !!!!

Sampai pada momen malam keharmonisan, Yaitu makan bersama sambil bercengkrama dan bermain kartu. Yang sudah purna akan bercerita tentang kehidupan paska sudah jarang ketemu atau membahas pekerjaan yang sudah dalam jalur kordinasi alumni. Yang muda akan menikmati cengkram yang sama sambil mendengarkan cerita dari orang tua. Mereka memliki pengalaman lebih, dibagikan secara gratis, apakah tidak menjadi bodoh kita jika tidak memanfaatkan ketika tanggungjawab moral mereka sangat tinggi kepada kita. Dengan ketegasan dan kehangatn seperti apapun, cinta mereka dalam ber-PMII tidak menjadikan beliau-beliau ini melupakan apa yang sudah mereka lakukan untuk PMII. Sampai hari ini.....kita masihlah bertanya,, kalau hari ini kita tidak serius, bukankah itu tanda bahwa kita tidak ingin organisasi ini hidup??? Sumonggo kito renungaken......

Tuesday, January 9, 2018



 Orang tua adalah sosok manusia yang mengajari anaknya mulai dari awal anak membuka mata sampai menutup mata dan tak membukanya lagi. Ada banyak sekali orang tua yang harus kita ketahui mulai dari orang tua yang mempunyai keahlian mengajar sampai orang tua yang hanya bisa mendo'akan, adapun pembagian orang tua dapat kita ketahui yanitu ada 3:

1- orang tua tandur, orang tua jenis ini adalah orang tua yang melahirkan dan kurang mampu untuk membimbing dalam pengajaran.
 2- orang tua tutur, dapat kita definisikan sebagai orang tua yang mampu mengajarkan kepada anak"nya untuk mengetahui pengetahuan, cara kita menghormati yaitu dengan menta'ati dan menta'dzimi apa yang beliau katakan. Dapat kita artikan sebagai guru, kyai, ulama' dan otang yang pernah mengajari anaknya walaupun hanya 1 huruf saja.
 3- orang tua sembur dapat kita fahami sebagai orang yang mampu menyembuhkan penyakit, baik penyakit luar maupun penyakit dalam, orang tua ini fungsinya sama seperti dokter hanya saja cara penyembuhannya yang berbeda.

Pergerakan adalah berpindahnya suatu batang ketempat lain dengan alasan ingin merubah posisi dari tempat yang tinggi ke kempat yang rendah, dari twmpat yang rwndah ke tempat yang tinggi bahkan dari derajat yang sama antar kedua tempat tersebut.

Orang tua sangat mempengaruhi gerak anak dalam semua bidang pergerakan dengan cara merestui atau tidak, maka disitulah awal dari anak untuk melakukan aktifitasnya. Ketika orang tua memberikan restu kepada anaknya dalam semua hal, maka disitulah kunci kesuksesan anak untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan apabila orang tua tidak memberikan restu kepada anaknya, maka disitulah ancaman anak untuk mendapatkan kesengsaraan dunia, bahkan lebih" diakhirat.


Catatan: orang tua adalah kunci kesuksesan.

Monday, January 8, 2018


Berpeci dan bersarung, itu salah satu ciri khas seorang santri. Biasanya kemanapun asesoris peci dan sarungnya biasa menghiasi aktifitas para santri. Namun saya tidak akan membahas tipologi santri. Namun hal yang akan saya sesuaikan dengan judul adalah bagaimana gerakan dari aktifis pesantren yang notabennya juga menjadi kader PMII. Karena menjadi ciri khas sendiri ketika satu komisariat ini berada pada letak geografis pesantren. Namun disatu sisi menjadi corak yang tidak terelakkan dalam permasalahan sistem penataan kaderisasi di komisariat. Kadang anggota dan kader PMII di pesantren ini sangat terkendala situasi yang tidak bisa bergerak leluasa seperti layaknya aktifis PMII lainnya. Namun kadang kala bisa mengkombinasikannya dalam cara gerak PMII yang ada di lingkup pesantren. Pada hal tersebut apakah itu menjadi suatu kendala berPMII atau menjadi satu motivasi yang kuat untuk mewarnai PMII dan kenapa saya harus mengangkat santri. selanjutnya akan saya jabarkan secara singkat dan sedikit membuka nalar kita santri pergerakan itu bagaimana.

Dari bahasa sederhana dan pengamatan langsung dari setiap masa di komisariat yang saya ikuti, selain karena memang komisariat ini ada di jalur lokasi pesantren/ wilayah pesantren, serta sebagian besar kadernya juga santri dan alumni pesantren. Maka dari itu juga yang membuat saya ingin menganalogikan santri pergerakan di komisariat STIT Al - Fattah itu bagaimana. Walaupun anggota dan kadernya tidak hanya dari pesantren namun ada corak unik tersendiri jika kader itu dari pesantren atau minimal alumni berapa bulan lah.

Dari segi aktifitas di pesantren kader ini jelas akan lebih banyak sibuk menimba ilmu di pondok. Karena ketika di pondok jelas manual kegiatan sehari-hari adalah ngaji dari pagi - malam, mungkin yang sudah kuliah ada keringanan kegiatan. Dan juga ada yang sambil ngabdi di Ndalem, jadi jelas dengan aktifitas yang ada akan ada dampak keaktifan di komisariat. Mungkin akan seringnya izin dari kegiatan, bahkan ada urgensi kegiatan bisa tidak hadir. Sehingga ini menjadi tantangan kader tersebut. Namun pada lain hal mungkin ini menjadi satu motivasi besar akan sebuah keadaan tidak menghalangi maksud dan tujuan mulia dalam ber-PMII. Karena kaderisasi tidaklah lah monoton dan memaksakan. Proses belajar adalah pengabdian terbesar manusia dalam meneguhkan keimanan. Jadi apa yang harus dilakukan dan dimaksimalkan dari kader pesantren adalah mengamalkan ilmu dan membagi ilmu serta waktunya. Berhubung memang kita ini dari NU, jelas tradisi NU masihlah melekat dalam setiap aktifitas sahabat PMII. Mulai kajian ke-Islaman dan kegiatan rutin malam jum'at. Dalam hal ini posisi seorang santri pergerakan sangat penting. Menempatkan posisi kaderisasi di PMII sebagai seorang agamis. Karena mungkin masih aktif di pondok, jelas soal keilmuan agama lebih mumpuni daripada kader lain yang tidak pernah mondok atau sudah alumni. contoh dengan kegiatan yang pernah dilakasanakn komisariat ketika mengadakan ngaji posoan. Ini jelas peran seorang santri sebagai garda terdepan menembanya dan menyiramkan ilmu kitabnya ke sahabat PMII lain. Tidak harus kapan dimana kegiatan tersebut direalisasikan. Mereka bisa menempatkan pada situasi yang tidak saling tumpang tindih antara komisariat dan pondoknya. Selain itu bisa membantu dalam segi karya tulis yang bisa diposting diblog komisariat. Sehingga ruang kaderisasi bagi mereka sangat terbuka. Tidak harus berada di base cem seperti sahabat lain yang sampai menginap, tapi bisa memberikan karya geraknya dengan cara seperti yang sudah saya jelaskan tadi.

Jika ilmu itu bermanfaat maka satu cara adalah membaginya dengan pengamalan-pengamalan yang sudah di dapat ketika berada di pesantren. Entah itu kajian kitab kuning atau kajian-kajian keagamaan lainnya. Karena corak seorang nahdliyin selain budaya yasin tahlil dan lain-lain, adalah salah satunya seorang santri. Sebagai satu wujudnya tersebut, PMII memang harus memiliki kader dari santri. Karena keagamaan yang kuat memang sangat bisa didapat di pondok. Pengabdian yang tinggi juga sudah terimplemnetasikan ketika mengabdikan raga dan akalnya pada ilmu dan kyainya. Maka tidak haruslah berkecil hati menjadi aktifis PMII pondok pesantren, karena pergerakan itu tidak menempatkan kita pada situasi yang melulu harus diratapi dan menimbulkan bakteri-bakteri hegemoni, pragmatis dan apatis. Sehingga akan memunculkan kalimat " maaf saya santri, saya lebih bisa mengabdikan diri di pondok ". lalu apakah santri tidak peduli dengan diluar itu. Inilah yang membuat banyak kaum radikalis menjamur. Karena kenyamaan dan sikap pragmatisnya para santri. Maka mejaga PMII dari gerakan itu juga membutuhkan kalian sebagai kader NU.

Kopiku memang tidak hangat, namun masih terasa mantap, karena aku nikmati dari seteguk air kopi yang masuk ketenggoroanku lalu sambil setelahnya rokok ini menghangatkan keadaan. dan sini mari kita bercengkrama bersama...dan kulayangkan kopyahku sambil menunduk sebagai tanda hormatku kalian wahai sahabat santri pergerkanku......



By : Santri pergerakan







Friday, January 5, 2018


Media hari ini begitu sangat kompleks, yang dahulu kita hanya bisa menikmati dari media cetak namun hari kita bisa sangat mudah mengakses segala hal dari tangan kita tanpa susah payah membeli koran dan buku-buku. Begitu pula ketika menulis, perkembangan dari tulis tangan ke mesin ketik yang suaranya bak orkestra kemudian komputer, dan hari ini bisa menggunakan gadged yang sudah sangat mumpuni untuk menulis ( menulis status contohnya ). Dengan perjalanan media yang sebagai alat dalam menulis dari waktu ke waktu semakin mudah, jelas menjadi penulis hari ini akan lebih enak. Banyak aplikasi pendukung dan mempermudah, tulisan salah ketik bisa ada koreksi otomatis meski kurang maksimal juga. Pada intinya menjadi penulis selain kecakapan bahasa kata pena namun hal yang sudah sangat mendukung adalah medianya.

Tidak kalah pentingnya dari menulis adalah profit atau berpenghasilan. Meski tidak banyak orang sangat sukses dalam menulis, namun saya kira penulis sejati yang menikmati lantunan kata penanya tidak menghiraukan hal yang bagi saya sangat sederhana. Meski demikian bisa menjadi sedikit motivasi seseorang dalam menulis kalau ada hasil materinya. Lah...hal ini pun lebih mudah daripada dulu yang harus mengirim ke koran-koran dan memunculkan buku, baru dapat penghasilan. Sekarang ada internet yang sudah rata-rata bisa mengaksesnya. Mulai yang paling sederhana melalui blog yang istilah sudah adsenses, nantinya ada hasil materi jika blognya sangat aktif dan banyak yang mengunjungi. Secara otomatis pula kalau tulisan kita kalau sudah dikenal maka akan banyak yang tertarik untuk mendatangakan kita sebagai narasumber. Ibarat menulis adalah salah satu jalan dalam menunjukan daya nalar dan pikir kita.

Itu sedikit nilai profit yang mungkin bisa kita dapat. Namun memang masih banyak yang pesimis jika menulis itu sangat menakutkan dan tidak semudah berbicara. Sebagian orang akan mengamini hal demikian, namun sebagaian besar akan berkata berbeda. Karena sudah sanagat jelas, status-status kita dalam media sosial banayak sekali menggunakan kata-kata manis nan bijak. Agar terlihat waw orang lain, meski plagiat juga. Dari ini saya bisa sedikit merumuskan, banyak orang sangat mumpuni dalam hal tulis menulis, meskipun intreprestasinya agak berbeda. Karena tulisan seorang penulis dan tulisan dari seorang pegiat media sosial jelas memang sangat jauh ranahnya. Namun bagi saya satu hal yang membuat sama, yaitu mengenalkan dan membuka diri. Walau lebih bermakna tulisan dari seorang penulis tulen. Ini bisa jadi tolak ukur perbedaanya hanya pada pemikiran yang digunakan. jika seorang penulis sedang membuka dunia secara luas namun seorang pegiat media sosial hanya membuka dunia kepribadiannya. Jika ini dasadari bahwa semua memiliki bakat itu dan merubah hegemoninya saya kira ada banyak hal yang lebih bermakna. Minimal status yang kita buat lebih berisi dan membuka jalan buntuk akal orang-orang diluar kita.

Dari hal ini, arah pemikiran kitalah yang mempengaruhi cara kita bersikap. Sehingga ketika bermedia bagi kita memang asyik dengan ketik sana ketik sini, kemudian kata surga kata neraka pun ter diskripsikan secara baik. Kenapa tidak kita tuliskan itu secara lebih bermakna. Sudah biasa ngetik status lo,,,, tidak ada bedanya aslinya. Cuman kita saja yang merasa menulis itu ribet. Harus gini dan itu. Padahal hanya satu kuncinya, buatlah menulis itu seasyik saaat kita buat status di beranda media sosial kita.

Sambil menikmati matahari yang terbit, eh ternyata kok masih jam 09.00 malam. Ini bakalan lama nunggunya, yaaa sudahlah..begadang begadang...eh ada bang haji...begadang jangan begadang kalau tidak ada gunanya..ah cuek tak bikin status saja..status eh status...kok banyak tidak bergunanya status ini....( wah kilingan bang haji )...


MARI SAHABAT KITA MENULIS MESKIPUN HANYA DENGAN SATU KALIMAT STATUS DI BERANDA KALIAN...


By: Santri Pergerakan



Wednesday, January 3, 2018

Beliau biasa di panggil cak Abid, dilahirkan di daerah bengawan njero, tepatnya di Desa Waruk Kecamatan Karangbinangun Kabupaten lamongan. 34 tahun lalu beliau dilahirkan, tepatnya pada hari Rabu, 28 Maret 1984. 

Sahabat Abid berada pada geografis daerah sering terkena musibah banjir disetiap musimnya. Apakah ini menjadi pertanda proses beliau terhambat dan lambat?, ternyata tidak. Melihat sekarang aktif dibeberapa intsnasi dan menjabat posisi yang cukup strategis, bisa menjadi tolak ukur bagaimana keadaan tidak menjadi penghalang beliau dalam menuntut ilmu dan meraih kesuksesan dalam hidup serta bermanfaat bagi sesama. 

Jenjang pendidikan beliau sendiri dimulai dari MI Darul Ulum kemudian di MTs Khozainul Ulum Bojoasri - Kalitengah dan Aliyahnya sendiri di MA Darul Ulum Waruk. Selepas itu beliau melanjutkan pendidikan S1 di kampus STIT Al Fattah. Dalam proses menjadi santri disini, beliau aktif dibeberapa kajian-kajian kitab klasik dan semasa mahasiswa beliau aktif di organisasi intra dan ekstra. Bisa dibilang disinilah jiwa revolusionernya beliau, santri yang berkemajuan dalam berfikir dan bertindak. Semasa masih aktif di organisasi intra kampus, beliau menjadi pencetus adanya DEMA sekitar tahun 2005. Yang sebelumnya sistem yang dipakai adalah SENAT. Kemudian di organisasi ekstra sendiri beliau juga sangat aktif, yaitu di PK.PMII STIT Al Fattah. Sehabis menjadi Presiden Mahasiswa pertama selepas SENAT menjadi DEMA. Beliau juga menjadi Ketua Umum PMII cabang Lamongan pertama dari komisariat PMII STIT Al-Fattah pada tahun 2008-2010.

Selepas proses beliau pada saat menjadi mahasiswa, berdampak hingga hari ini beliau melanjutkan karirnya. Beliau sekarang mulai melanjutkan study pasca sarjana di Gresik. Menjabat sebagai sekretaris  Garda Bangsa Lamongan serta menjadi staf ahli anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

Sahabat Abid merupakan salah satu senior bagi kader komisariat PMII STIT Al-Fattah. Semangat dan dedikasi beliau pada organisasinya masih sangat terasa dan di alurkan pada denyut nadi pergerakannya. Menjadi seorang senior bukanlah jabatan namun sebuah tanggung jawab. Itu yang beliau cerminkan ketika memberikan banyak masukan dan arahan, tidak lupa akomodasi dibeberapa momen kegiatan. Sikap sahabat abid sendiri sangatlah tegas, namun memang itulah yang coba beliau tanamkan kepada adik-adiknya. Menjadi kader militan dan totalitas itu haruslah tegas dan cakap.

kalau kopi yang saya seduhkan tidak sebegitu mantap, maka bukan berarti saya tidak bisa membuat kopi. Namun harus saya takar lagi racikan kopi dan gulanya kemudian cara mengaduknya yang harus lebih dinikmati.

salam takdzim...salam pergerkan.....!!!

Menjadi hal umum jika di akhir tahun masehi setiap individu ataupun kelompok ingin merayakan suatu momen yang berkesan serta memberikan makna yang bergitu berarti guna sebagai penanda langkah dari yang sudah maupun yang akan ditempuh.

Begitu pula dengan pengurus komisariat pergerakan mahasiswa Islam Indonesia yang menggunakan momen akhir tahun ini untuk melakukan satu kegiatan momentum guna menyambut pergantian tahun. Kegiatan yang dilaksanakan sahabat-sahabat komisariat adalah kemah ilmiah, yang mana  kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya gerak dan fikir sahabat-sahabat dalam melakukan segala aktifitas organisasinya. Serta kegiatan ini sebagai momen pemersatu visi-misi dari setiap individu dalam menjalin perasaan antar saudara, atau bagaimana keorganisasian ini bukan hanya terkait administrasi namun juga hubungan sosial kekeluargaan yang terbangun. Karena tanpa itu pula segala aktifitas organisasi akan mengalami banyak kendala. Sebab apapun administrasi yang diterapkan akan sulit terealisasikan jika mana dari setiap anggota dan kader tidak memiliki jiwa kepemilikan antar individual atau bisa disebut sebagai hubungan hormonal. Karena sesuai tema kegiatan sendiri " Bercerita, Memadu Rasa, Merajut Asa dan Menjaga Tali Persahabatan Demi Satu Tujuan Bersama di Lembaran Baru ". 

kegiatan ini sendiri, dimulai dari menyiapkan tenda, kemudian menyiapkan perlatan yang dibutuhkan selama satu malam dan bercekrama santai dari setiap sahabat menceritakan momennya selama berada di PMII. Ada yang unik ketika melaksanakan kegiatan ini, yaitu banyak perlengkapan yang tertinggal. Entah karena apa, alat yang digunakan memasak banyak tertinggal sehingga sedikit memperhambat kegiatan. Meski demikian sikap sigap dari ketua panitia sahabat Anam akhirnya dapat memperlancar kegiatan. Beliau lontang - lantung untuk mencari alat di pertokoan daerah trawas. Ini mungkin sedikit ghirohnya beliau demi kegiatan tidak terkendala, tenaga siap tancap tanpa pandang kondisi. Kredit lebih mungkin pantas disematkan kepada sahabat Anam. 

" Bagi saya setiap hal yang saya lakukan adalah sebuah proses kaderisasi, jadi bagaiman saya berproses kalau mana saya tidak serius dalam bertindak serta cakap dalam segala momen-momen krusial ", Jelas sahabat Anam.

Ada beberapa momen seru dalam kegiatan ini, selain persiapan yang gagap gulita demikian. Sahabat merilekskan dengan menyalakan musik dugem nan santai sembari menggoyangkan pinggul tangan. Pertanda hari mulai tenang dan menjaga situasi kondusif dengan keasyikannya. 

"apa guna dunia ini jika musik seasyik ini tidak membuat kita bergoyang gembira" kata sahabat Anam.
Selepas itu, masuk pada acara inti. Sahabat-sahabat memutari api unggun yang sudah mulai layu. Sembari menyalakan lilin guna menambahkan kehangatan acara. Setiap sahabat menceritakan momen-momennya ketika di PMII. Sebelum dimulai ada puisi penyambut dari sahabat Basri. Yang sedikit bisa diulas disini " ada sahabat yang bertanya tentang cinta, Bagaimana seseorang bisa mengatakan cinta jika tak terungkap dalam langkah nyata ", ucap sahabat Basri. 

kemudian sahabat-sahabat menceritakan momen-momennya. Mulai dari hanya sekedar ingin menikmati kumpul, keluar dari kejenuhan, serius dalam berorganisasi dan pelampiasan dari kenyataan pahit hatinya. Begitu beragam sahabat ini memaknai gerakannya dan merubah awal pemikirannya sehingga proses kedepan bagaiman bisa berguna bagi PMII.

"saya masuk di PMII memang telat, mungkin karena kesibukan saya di Pondok sehingga belum berani untuk mengikuti kegiatan ekstra. Namun ada penyesalan tersendiri, karena sahabat-sahabat PMII ini secara pemikiran luar biasa dan maju kemudian direalisasikan dalam gerakan. Ini yang membuat saya sangat mantap dalam ber-PMII" Jelas sahabat Anam.

"saya sendiri masuk PMII karena memang sudah sangat aktif dalam organisasi, sehingga ketika kuliah saya juga sangat ingin berorganisasi. Dengan izin orang tua, PMII menjadi pilihan saya. Namun ada beberapa hal yang membuat saya sangat kecewa, bukan pada PMIInya namun oknum-oknumnya. Sehingga membuat saya gundah. Namun pada saat ini pula bahwa kalau berorganisasi bukan numpang hidup tapi harus menghidupi. Sehingga pada suatu saat nanti saya ingin merubah menset dari oknum-oknum ini agar lebih menjunjung tinggi warwah organisasi" tandas Sahabat Faruq.

"masuk diorganisasi adalah pilihan yang tidak bisa saya ambil ketika masih ada dibangku sekolah, karena keadaan di Pondok membuat saya tidak bisa ikut kegiatan-kegiatan diluar jam sekolah. Maka bisa dikatakan ini sudah menjadi impian semasa SMA. Karena di kampus hanya ada PMII maka saya ingin masuk dan belajar. Namun di situ ada pertentangan dari beberapa orang di Organisasi lain  yang juga saya ikuti, sehingga membuat saya dilema. Namun bagi pribadi tidak ada yang salah di PMII. karena gunjingan ketika ikut kegiatan PMII, maka saya lebih sering aktif di PMII. Dan beberapa masukan terkait permasalah ini akan saya coba maksimalkan dalam proses saya", Kata Sahabat Amil.

"menjadi seorang berandalan adalah citra semasa SMA. Namun hari ini ketika saya masuk di PMII, paham cara kerja dan hubungan keluarganya, menjadikan hati ini mantap ingin selalu belajar memebanahi pribadi kemudian berjuang menghidupakan organisasi ini" jelas Sahabat Agung.

"menjadi pecundang karena urusan hati memang sedikit menggugah akal guna bergerak. inilah awal mula saya begitu serius ingin ber-PMII. Karena patah hati membuat jiwa raga ini melupakannya dan menyibukkan diri di kegiatan-kegiatan organisasi. Meski niat ini salah tapi lambat waktu berjalan, akhirnya pergeseran pemikiran pun ada. Saya lebih ingin serius dalam ber-PMII" begitu kata Sahabat Ipul.

begitu sangat beragam sahabat-sahabat ini menceritakan momennya, menjadikan kopi ini semakin hangat saja. Tidak tahunya sudah masuk jam 00.00 Wib, 01 Januari 2018, petasanpun terbang bebas ke langit-langit. dum-dum, suara petasan bernyanyi sembari kilatan cahaya ledakan yang menari indah berwarna-warni. Kemudian bunyi klakson sepeda motor dan mobil bergerumun di iringi suara knalpot dari tarikan gas sepeda motor. Ramenya malam tahun baru. Kita pun tidak mau kalah. Sahabat syaiful menyiapkan alat yang sudah sedari sebelumnya direncakan untuk membuat lampion. Lampion siap dan terbang..............................................tidak sampai beberap puluh meter api lampion sedikit memadam, entah karena apa, lampionpun turun manis. Sahabat-sahabat berlari agar lampion tidak mengenai tenda, karena bisa bahaya tingkat dewa kalau apinya menyambar tenda. Tawa ria seluruh lapangan benada huuuuuuuuuuuuuu...sedikit malulah kita..tidak mau nyerah kita siapkan lagi lampion itu untuk terbang. Sudah pasti lah....masih pada proses pertama. Lampionnya tidak mau terbang. Sedikit menahan jengkel dan malu tapi tetap tawa lepas kita bersama. Akhirnya lampion di bakar buat api unggun dan cuek saja. Joget lagi abang....!!!! jib ajib ajib ajib ajib...sekedap sekedap sekedap...ebgitulah nada dari sahabat anam dan ipul sambil lampu senter diputar-putar layaknya disko.

Demikian kegaiatan sahabat-sahabat di akhir tahun. Sembari kita menjabat tangan ini secara erat, mari kita bisikkan satu kalimat tajam ke angkasa. JIKA BENDERA SUDAH DIKIBARKAN, HENTIKAN RATAPAN DAN TANGISAN, TANGAN TERKEPAL MAJU KEMUKA !!!!!

Semoga kartu remiku banyak jokernya biar makin asyik aku duduk berputar disekeliling kalian yang memapang raut wajah penuh gelisah dan menahan pemikiran yang dalam. Menandakan kalian tidak ingin organisasi ini berjalan stagnan apalagi hilang karena kebodohan.

terimakasih sahabatku......

by : Santri pergerakan ( fotoku kok unyu dewe )

Tuesday, December 26, 2017




Sebagai warga Nahdliyin, ziarah kubur sudah menjadi salah satu ibadah yang diajurkan dalam pengamalannya. Kebiasaan ziarah ini mengunjungi makam wali, kyai, orang tua, sanak saudara dan para pejuang bangsa ini. Kegiatan ini biasanya di isi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an atau biasa Kita sebut membaca tahlil & yasin.

Pada tanggal 27 Desember 2017, Pengurus Anak Cabang ANSOR Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan, Mengadakan Kegiatan Ziarah kubur. Sesuai dari amalan yang dianjurkan oleh para ulama-ulama terdahulu. Sehingga kegiatan ini sangat perlu di realisasikan demi mempertahanklan budaya dan menjaga kelestarian amal-amalan ibadah yang jelas sangat bermanfaat.
           
Rute yang akan diambil dalam ziarah ini, dimulai dari Parang Tritis sebagai start pariwasatanya kemudian religinya ke para Wali dari Jawa Tengah, yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Muria serta berkeliling ke Kota Demak. Akhir dari rute wisata religi di Sunan Bonang yang berada di Tuban. Begitulan proses kegiatan yang disalaksanakn oleh sahabat ANSOR dari kecamatan Modo.


“Kegiatan ini sendiri bagian dari realisasi permohonan Sahabat ANSOR Modo pada saat reses, sekaligus jalinan sillatuirrahmi Pak Suparta dan Sahabat ANSOR,” Kata Sahabat Abid. 

Saturday, December 23, 2017

Dalam hal apapun perbedaan itu tidak akan terhindarkan. Bahkan semakin kentara dari setiap individu ke individu lain, dari kelompok satu ke kelompok lain. Melihat hal semacam ini jelas perbedaan adalah suatu keniscayaan bagi setiap mahluk hidup. Maka inilah warna kehidupan, tidak hanya hitam putih namun ada puluhan warna menghiasi. Jika ini digambarkan dengan kata puitis maka inilah yang dinamakan sebagai persatuan. 

Hari segala isu mulai tergulir tajam dan manis. Semua dimuarakan ke agama. Ketika bersosial menjadi tidak lagi baik. Segala hal dikatakan sebagi bid'ah tanpa menulusuri maksud. Menjadikan agama hanya alat pembenaran prilaku dan merupakan pemegang kebijakan yang absolut. Maka bagaiman kita mengenalkan keindahan beragama. Padahal di Qur'an sendiri mengatkan bahwa kita tecipta bersuku - suku yang berbeda-beda. 
وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Jelas bahwa mengenal perbedaan membuat kita terjauh dari sikap takabbur. Bahwa kitalah yang paling baik dan mereka dengan mengatakan bid'ah lebih buruk dari kita.

Agama itu indah namun keindahan itu bisa terpancar dari kita yang melakukan penerapan sistem agama secara indah. Bukan sebagai alat ataupun tameng kebenaran individual ataupun kelompok tertentu semata. Dengan keindahan akan banyak orang akan terpana, namun bila tak mengejawanthakn secara kasar maka banyak akan terpinggir dan tidak menerima realitas semestinya. Bukan hanya mereka tapi kita bertanggung jawab bagaiman agama menjadi suatu hal yang patut diikuti bukan dihindari.

mengenai tentang ucapan selamat saya ambil dari grup sahabat saya alumni ketika sekolah dulu. bahwa ucapan selamat bukanlah hal nista. Mengatakan kebiasaan orang kafir dengan dalih mampu merubah keimanan??? lah saya ingat ketiak cak nun menjelaskan bahwa ada seseorang yang bertanya musik itu haram karena dapat menghilangkan kesadaran kita pada tuhan. Lah ya antara sadar dan tidaknya ada di akal kita. Bagaiman cara kita berfikir bukan musiknya yang salah tapi cara berfikir kita salah. Apalgi penyuplikan ayat dan dalil-dalil lainnya sudah asal saja yang penting dapat memuluskan argumentasi itu sangatlah parah.

Diriwayatkan Ibnu Ishak, suatu hari orang-orang ARAB QURAISH mendatangi Nabi Muhammad & berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana bila kita bekerja-sama dalam ibadah? Kami akan menyembah yang kau sembah, tapi kau juga menyembah yang kami sembah."

Turunlah firman Allah, لَكُم دينُكُم وَلِيَ دينِ , "Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku" (Al-Quran, surat Al-Kafirun, ayat 6).

Ini adalah ASBABUN NUZUL (sebab turun ayat) Al-Kafirun, ditujukan kepada Arab Quraish yang mengajak MENYATUKAN AGAMA.

Lalu, apakah mengucapkan "Selamat Natal" artinya kita MENYATUKAN AGAMA Islam & Kristiani? Ucapan selamat tak lebih dari ADAB SANTUN tidak ada bedanya dengan ucapan "Selamat Ulang Tahun", atau "Selamat Menempuh Hidup Baru" bagi pasangan baru menikah, atau saat mendengar istri kawan baru hamil.


Masalahnya dimana? TIDAK ADA urusannya dengan Akidah, hanya adab BERBAGI BAHAGIA. tidak kurang tidak lebih, karena kita manusia, bukan binatang. Menggunakan Al-Kafirun yang ditujukan kepada ARAB Quraish karena mengajak MENYATUKAN agama untuk mengharamkan "Selamat Natal" jelas jelas "Jaka Sembung Bawa Golok!"

Argumentasi adalah politis namun apakah politis itu menjadi baik dan buruk maka gunakan argumentasi yang baik dengan tidak mengotak - atik sesuatu yang tujuannya hanya untuk alat pembenaran. Ada yang mengatakn kita harus menjahui keburukan agar tidak goyah iman kita. Padahal agama turun bukan menghindari keburukan namun menetralisir keadaan. Kalau seandainya agama menghindari keburukan mungkin mekkah tidak lah seperti ini, atau hari ini saudara kita palestina sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan Al-Aqsa mungkin bisa dihindari karena katanya nasionalisme tiada dalilnya. Terus bagaimana posisi agama sebagai agen perubahan dan kontrol sosisal jika menghindari masalah bukannya menetralisir masalah hingga berbuah manis bagi semua umat. Apalagi menucapkan selamat adalah rasa persaudaraan anatar umat manusia. Tidakkkah ingat Roham dan RohimNya. bukankah mencintai manusia juga merupakan cara kita beriman. Menjaga kebaikan agar kebaikan terlestarikan dan dapat menarik daya seluruh umat yang berkutat pada kebenaran agama masing-masing. Masihkah kita harus berkuta pada hukum kalau hanyaalat kebenaran subtansial semata.

Semoga bangsa ini tetaplah kokoh menghadapi rakyatnya yang sedang beretotika tentang perpecahan dan memuluskan kerusakan yang tidak disadari. 

Selamat hari Natal untuk saudaraku yang sedang melaksanakannya......

by: santri pergerakan

Monday, December 18, 2017



Membincang ke-Islam-an di negeri kita, merupakan sebuah hal lain dari pada yang lain (out of the box). Pasalnya negara yang berdiri sejak tahun 1945 ini bukan negara yang menggunakan landasan syariah dalam konstitusinya. Padahal jikalau melihat rasio dari jumlah penduduk, Indonesia hampir 90 persennya adalah muslim. Sikap inilah yang diambil oleh tim perumus Piagam Jakarta, diantaranya para Kiai NU yang menunjukkan sikap moderat. Beliau-beliau menyadari betul bahwa lanskapnation-state negeri kita adalah bangsa yang majmuk, berkeragaman budaya, suku dan agama. Diputuskanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU berpandangan, Islam tidak perlu diformalisasikan dalam bentuk negara, namun cukup menjadi laku etik para pemeluknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mencontoh pada apa yang dilakukan Rasulullah SAW saat berada di kota Madinah, yang menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahan, dakwah keagamaan dan pembangunan akhlaqulkarimah masyarakat. Proses dialog harmonis antara agama dan realitas sosial akan mewujudkan tata masyarakat yang saling menghargai dan damai. Strategi dakwah seperti ini yang dilakukan oleh Walisongo, terjaga oleh pondok-pondok pesantren di bawah naungan para Kiai, dan terserap di setiap jiwa penduduk muslim kita. Sehingga amat disayangkan apabila hari ini ada yang mencoba mengusik keadaan tersebut. Kelompok yang mengaku melakukan dakwah, namun menggunakan cara pemaksaan, kekerasan bahkan pelanggaran HAM. Kita lihat saja FPI (Front Pembela Islam), MMI (Majlis Mujahidin Indonesia), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah dan Salafi, gerakan dakwah mereka sangat tidak mencerminkan wajah Islam yang rahmatanlil ‘alamiin. Gus Dur pernah berpesan bahwa “Kita butuh Islam Ramah, bukan Islam Marah”. Yang lebih berbahaya lagi yaitu agenda politik mereka yang sebenarnya ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam untuk mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah di dunia. Padahal sejarah telah memcatat tidak ada Negara Islam yang mampu langgeng dan bertahan melewati arus modernisasi seperti saat ini.
Selain itu, belum lama ini ada kericuhan di negeri kita. Dimana bebrapa ORMAS Islam turun jalan menuntut mantan gubernur Jakarta karena perkataannya menyinggung hati umat Islam dengan mengutip salah satu ayat dalam pidatonya. Dengan dalih apa yang dikatan pak basuki ini mengatakan bahwa ayat Qur'an berbohong. Padahal beliau sudah klarifikasi dan minta maaf, namun masih dipermasalahkan hingga terjadi perdebatan yang panjang dan alot Sehingga Pak Basuki ditahan. Dengan momen PILKADA jakarta saat itu dan momen - momen panas beserta pemanfaatan. Mungkin ini yang disebut agama hanya alat politis. Sangat disayangkan jika agama Islam menjadi tidak lagi teduh dan mengayumi para umat. Ayat-ayat suci hanya sebagai kendaraan. Hati umat tergugah dan dimanfaatkan. Muncul aksi berjilid-jilid yang notabene tidak perlu dilakukan dan digencar-gencarkan. Membiarkan umat tergerus arus kebodohan. Mereka yang lalim merasa paling alim. Mengkafirkan sana - sini guna melegitimasi keimananya yang paling sempurrna. Membuat wajah umat Islam seperti senjata pembunuh bagi yang tidak sepaham.
Disinilah peran kader muda Nahdlatul Ulama’, yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII) untuk berjuang dalam menjaga dan melestarikan apa yang telah diajarkan oleh para pendahulunya. Internalisasi nilai dan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah (disingkat Aswaja) wajib untuk dilakukan saat ini. Aswaja harus dipahami secara kaffah, mulai dari aspek sejarah, landasan teologis, nilai dan ajaran keseharian sampai pada upaya perwujudan peradaban umat muslim di masa depan. Aswaja yang tidak hanya menjunjung toleransi, keseimbangan, moderat, keadilan, namun juga merespon modernitas, demokrasi, persamaan gender, HAM, pluralisme. Aswaja yang berupaya menjaga laku tradisional serta local widom di lapisan masyarakatnya. Sebagai upaya strategis pengurus komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STIT AL FATTAH yang bermaksud untuk mewujudkan hal-hal diatas, kami memandang penting untuk melaksanakan “SEKOLAH ASWAJA”. Sebuah forum kaderisasi non-formal untuk kader PMII yang disiapkan menghadapi masa depan. Forum yang selain untuk menyambung jejaring intelektual muda NU di kawasan Pantura Jawa, juga memperkaya wawasan dan militansi terahadap slogan “NKRI Harga Mati”. Dan kali ini kami mengangkat tema “MEMPERKUAT NILAI ASWAJA GUNA MENANGGULANGI BAHAYA FAHAM RADIKALISME DAN FAHAM INTOLERAN ” untuk memperteguh perjuangan kemerdekaan Indonesia kami di Islam Nusantara ini.

next....akan ada ulasan materi yang akan disahre..jangan lupa untuk mengklik tombol mengikuti ya. Biar komisariat STITAF dalam bermedia dan memberikan informasinya semakin baik dan semoga memberikan kemafaatan bagi para pembaca sekalian...Salam takdzim kami...

By : santri pergerakan


Sunday, December 17, 2017


Inilah kami wahai Indonesia
Satu barisan dan satu cita
Pembela bangsa, penegak agama
Tangan terkepal dan maju kemuka
Habislah sudah masa yang suram
Selesai sudah derita yang lama
Bangsa yang jaya
Islam yang benar
Bangun tersentak dari bumiku subur
*Reff :
Denganmu PMII
Pergerakanku
Ilmu dan bakti, ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku
Inilah kami wahai Indonesia
Satu angkatan dan satu jiwa
Putera bangsa bebas meerdeka
Tangan terkepal dan maju kemuka
Denganmu PMII
Pergerakanku
Ilmu dan bakti, ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku